Sabtu, 20 September 2008

Cultural Anthropology_Mr.J. Purnawijdaja



KEHIDUPAN LESBI di LINGKUNGAN MASYARAKAT


BAB I PENDAHULUAN

I. 1. Latar Belakang
DKI Jakarta atau Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang sering disebut juga kota metropolitan adalah termasuk salah satu propinsi yang ada di Indonesia yang perkembangannya semakin maju dan pesat diantara kota – kota lain di Indonesia. Oleh karena itu, banyak masyarakat dari desa datang ke Kota Jakarta ini untuk mengadu nasib agar memperoleh penghidupan yang lebih layak. Setiap tahunnya Jakarta selalu mengalami peningkatan penduduk yang tentu saja sangat pesat akibatnya kota Jakarta menjadi semakin padat. Bukan hanya itu saja, kota Jakarta kini terkenal akan kemacetannya karena penduduk yang semakin banyak.
Namun, kota Jakarta kini tidak lagi menjadi kota yang sangat berpotensial untuk masyarakat yang baru saja datang dari desa. Hal ini mengakibatkan kota Jakarta semakin semrawut. Orang – orang yang akan mengadu nasib di Jakarta harus memiliki keahlian yang sangat cerdas karena hal tersebut akan menjadi persaingan ketat di kota Jakarta. Dan satu lagi adalah mempunyai mental yang kuat karena kehidupan di kota Jakarta sangat sulit.
Kehidupan di kota Jakarta pun sangat memprihatinkan. Sebagai kota metropolitan, Jakarta tentu saja memiliki gaya hidup yang begitu glamour atau mewah. Bukan hanya orangtua saja yang senang akan kehidupan yang dimanjakan oleh kota Jakarta ini, tetapi juga remaja – remaja yang ada di Jakarta. Sungguh memprihatinkan, diantara remaja – remaja yang sibuk meraih prestasi dan ilmu belajar di kota ini, ternyata terdapat remaja – remaja yang menyimpang dari kewajibannya sebagai pelajar. Misalnya saja, melakukan kegiatan prostitusi, menjadi ayam kampus, selalu pergi ke diskotik, sampai pada penggunaan obat – obatan terlarang. Entah apa yang ada di pikiran remaja itu, apakah mungkin mereka sangat stres setelah seharian penuh menimba ilmu di sekolah atau di kampus, atau mungkin saja mereka melakukan hal – hal yang menyimpang tersebut didasari atas gaya hidup remaja – remaja masa kini di Jakarta. Bukan hanya itu saja, kini kota Jakarta setiap malam hari selalu dihiasi dengan waria – waria yang bertebaran di sudut – sudut kota Jakarta. Kemungkinan besar mereka melakukan itu semua karena himpitan dari perekonomian yang ternyata sulit didapatkan di Jakarta, tetapi ada pula para pria yang menjadi waria ini didasarkan atas keinginan mereka sendiri yang memiliki hasrat sebagai wanita.
Dengan gemerlapnya kehidupan yang ada di kota Jakarta ini mengakibatkan banyak tindakan – tindakan yang sangat menyimpang dari kehidupan. Mungkin bukan hanya di kota Jakarta saja yang memiliki kehidupan yang demikian, di kota – kota besar lain pun juga terdapat kehidupan yang sangat menyimpang. Dengan gaya hidup yang demikian, kota Jakarta pun juga dihiasi dengan tingkah laku para pria homo (hubungan sesama jenis pria) dan lesbian (hubungan sesama jenis wanita). Entah apa yang mendasari tingkah laku yang demikian, yang jelas para homo dan lesbian itu ternyata benar – benar ada dan bukan hanya isapan jempol semata. Mereka juga memiliki suatu wadah yang di khususkan untuk para homo dan lesbian. Bahkan terdapat juga tempat – tempat hiburan seperti diskotik yang menyediakan tempat berkumpulnya para homo dan lesbian tersebut. Kata lesbian sendiri menunjuk pada perempuan homoseks, yaitu wanita yang memiliki emosi erotis dan seksual terhadap kaum sejenis. Bila menengok ke belakang, perempuan tomboy sering disalahartikan sebagai lesbianisme, meski hal itu juga lumrah terjadi pada perempuan heteroseks. Untuk para wanita khususnya, mungkin harus berhati – hati jika ada wanita lain yang tiba – tiba saja datang dan menunjukkan perhatiannya kepada kita sebagai seorang sahabat, ternyata wanita itu adalah lesbian. Tentu saja, wanita sangat sensitif terhadap apapun yang terjadi di kehidupannya dan wanita lebih cepat memiliki trauma yang tidak bisa dilupakan.
Untuk itu, kami mengadakan penelitian dari dua tingkah laku yang menyimpang tersebut lebih spesifik lagi yaitu tentang lesbian, yang tentu saja akan dihubungkan dengan para homo juga termasuk kehidupan dari lesbian tersebut dan faktor – faktor apa saja yang mengakibatkan tingkah laku demikian. Mungkin karena gaya hidup sampai pada trauma yang dialami oleh para lesbian itu.
I. 2. Permasalahan Penelitian
Dalam penelitian kami, kami meneliti dan membahas seputar masalah lesbian yang ada di lingkungan masyarakat. Sehingga hasil penelitian kami, memiliki fokus yang lebih jelas.
Kami akan membahas pengertian dari lesbian, sebutan dari para lesbian, faktor – faktor yang mempengaruhi lesbian, dan segala informasi yang kami dapat dari para lesbian. Kami juga akan membahas bagaimana sebenarnya tingkah laku lesbian itu di kehidupan masyarakat.
I. 3. Rumusan Penelitian
Merumuskan penelitian sebagai berikut :
“ Bagaimana kehidupan lesbian di lingkungan masyarakat ? “
I. 4. Tujuan Penelitian
I. 4. 1. Tujuan Praktis
Untuk memenuhi salah satu syarat mata kuliah Cultural Anthropology, untuk menambah wawasan penulis dalam kehidupan para lesbian di lingkungan masyarakat.
I. 4. 2. Tujuan Akademis
Untuk mengetahui bagaimana kehidupan para lesbian di lingkungan masyarakat.

BAB II KERANGKA KONSEP

II. 1. Pengertian Lesbian
Lesbian menunjuk pada perempuan homoseks, adalah wanita yang memiliki emosi erotis dan seksual terhadap kaum sejenis.
II. 2. Pengertian Lingkungan
Lingkungan adalah daerah atau kawasan yang mempengaruhi kehidupan makhluk hidup di sekitarnya.
II. 3. Pengertian Masyarakat
Masyarakat artinya sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

III. 1. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan :
III. 1. 1. Wawancara
Wawancara adalah proses memperoleh keterangan atau data dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara si penanya (peneliti) dengan responden.
III. 1. 2. Kuesioner Kombinasi
Kuesioner kombinasi adalah kuesioner dengan bentuk pertanyaan kombinasi antara kuesioner terbuka dimana responden dapat mengemukakan jawabannya sendiri dan kuesioner tertutup adalah kuesioner yang telah menyediakan sejumlah jawaban sehingga responden tidak dapat mengemukakan jawabannya sendiri.
III. 1. 3. Studi Pustaka
Studi pustaka adalah kegiatan pengambilan data melalui informasi – informasi yang terdapat pada buku – buku yang mendukung penelitian tersebut.
III. 2. Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen pengumpulan data adalah dengan :
III. 2. 1. Pedoman Wawancara
Mengumpulkan berbagai pertanyaan untuk dijawab oleh responden agar data penelitian menjadi akurat.
III. 2. 2. Alat Tulis
Menggunakan alat tulis seperti pulpen dan kertas untuk menulis data.
III. 3. Analisis Data
Menganalisa tentang kehidupan para lesbian dan sebutan dari para lesbian, juga termasuk faktor – faktor penyebab lesbian tersebut. Dan pengaruhnya bagi mereka, para lesbian dalam menjalani kehidupannya.

BAB IV ANALISIS PEMBAHASAN

IV. 1. Pengertian Lesbian
Lesbian menunjuk pada perempuan homoseks, adalah wanita yang memiliki emosi erotis dan seksual terhadap kaum sejenis.
IV. 2. Sebutan untuk para Lesbian
Butch (butchie), Lesbian yang maskulin, potongan rambutnya cepak. Celana dan baju kasual. Merokok dan bertingkah laku layaknya laki – laki. Karakter tomboy itulah yang menjadi salah satu indikasi kaum lesbian butch dalam penelitian ini. Bagaimana mereka mengaktualisasikan diri?
Femme, lesbian yang berpenampilan feminin, lembut, layaknya perempuan heteroseks biasanya, berpakaian gaun perempuan.
Andro (androginy), perpaduan antara femme dan butch. Istilah butch-femme sebenarnya mulai muncul sekitar 1940-1950. Saat itu dalam relasi seksual pasangan lesbian, peran butch lebih banyak ’memberi’ dan femme lebih banyak ’menerima’.
IV. 3. Kehidupan Sosial Lesbian
Dibanding laki-laki homoseks (gay), lesbian cenderung lebih tertutup. Mereka berhati-hati mengungkapkan jati diri di hadapan publik. Akibatnya, lesbian kurang begitu dikenal dan dipahami dibanding laki-laki homoseks. Selain itu, alasan seksisme, lesbian yang sudah terdiskriminasi karena jenis kelamin, makin tersingkir akibat orientasi seksual. Perilaku lesbian berbeda dengan perilaku perempuan heteroseks. Mereka lebih memilih tidak mengaktualkan diri secara sosial. Kode sosial yang berbeda dalam memandang laki-laki dan perempuan adalah penyebabnya. Laki-laki lebih berani menembus tabu-tabu sosial karena kekuatannya secara fisik. Tapi, perempuan dipandang lebih lemah, sehingga tidak dibenarkan menembus tabu-tabu sosial.
IV. 4. Pembagian peran antar Lesbian
Pembagian peran tidak saja terdapat dalam hubungan seksual, tapi juga dalam berbagai kehidupan sehari-hari. Di "rumah tangga" terdapat peran yang berbeda dalam menjalankan kehidupan mereka. Seorang butch akan lebih berperan sebagai kepala rumah tangga dengan berbagai tugas yang biasa dilakukan laki-laki. Misalnya, mengurusi masalah kelistrikan, memperbaiki atap bocor, dan berbagai pekerjaan lain yang membutuhkan tenaga. Sebaliknya, lesbian femme akan melakukan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan rumah tangga seperti memasak dan mencuci. Namun, masalah hak dan kewajiban, tidak ada salah satu pihak yang menguasai pihak lain dalam kehidupan sosial pasangan lesbian. Masing-masing memiliki kedudukan yang sama.
IV. 5. Perkembangan kehidupan Lesbian
Seiring dengan semakin terbukanya masyarakat terhadap isu seksualitas, berubah pula perilaku seksual butch-femme. Dewasa ini banyak relasi seksual lesbian yang tidak lagi mengambil peran butch-femme.Walau mungkin dalam penampilan luarnya seorang lesbian bisa saja berpenampilan maskulin atau feminin, dalam relasi seksual, keterbukaan dan kesadaran perempuan akan seksualitas tubuhnya membuat relasi seksual lesbian sekarang ini lebih mutual. IV. 6. Faktor – faktor yang mempengaruhi Lesbian
Faktor apa saja yang memengaruhi perempuan menjadi lesbian?Pengalaman hidup mulai pola asuh orang tua, survive, gaya hidup, sampai adanya unsur balas dendam. Misalnya, peran ayah yang menyakiti ibunya. Atau, dirinya pernah disakiti laki-laki. Itu bisa membangkitkan jiwa lesbianisme. Selain itu, faktor hormonal. Hormon laki-lakinya lebih kuat daripada hormone perempuan.
IV. 7. Komunitas para Lesbian
Kaum lesbian ada di tengah-tengah masyarakat. Bukan mereka mengumpul dalam sebuah perkumpulan, semacam Swara Srikandi (SS). Di kelompok terkecil atau keluarga kita sendiri, bisa jadi mereka yang memiliki disorientasi seksual dengan kelamin sejenis itu akan mudah kita temukan. Hanya, mereka memang selalu menutup diri.
Di ibu kota, biasanya, kelompok lesbian lebih beruntung karena menjamurnya perkumpulan lesbian semacam SS di Jakarta atau Lembayung Dewata di Denpasar. "Dalam kelompok sehati, biasanya mereka aktif mengembangkan konsep diri," kata peneliti beranak dua ini.
Dengan cara seperti ini, setiap lesbian ditantang untuk terus-menerus melakukan pencerahan. Seperti aktivitas di SS, yang menggelar diskusi rutin membahas lesbian dari berbagai sisi. Mereka berusaha melibatkan banyak kalangan, baik dari usia maupun latar ekonomi, dalam kegiatan tersebut. "Kami berusaha menjangkau banyak kalangan," kata Wina, chairperson SS.
Media komunikasi diupayakan menjangkau semua kalangan. Mereka bukan hanya menggunakan fasilitas internet, melainkan juga menerbitkan buletin Lembar Swara (Le Swara) untuk menjangkau lebih banyak teman lesbian, yang karena keterbatasan tidak bisa mengakses website SS di http://welcome.to/swara-srikandi atau http://swara.cjb.net. Hal ini sekaligus menjauhkan kesan bahwa SS kelompok lesbian ekslusif. Diskusi rutin diadakan sebagai sarana penguatan komunitas, bertukar pengalaman, dan mengenal diri sendiri apa adanya. Diharapkan pada akhirnya para lesbian bisa menemukan jati diri yang sebenarnya dan menerima diri sendiri apa adanya. Komunitas tersebut hanyalah menjadi wadah rasa dan jiwa senasib-sepenanggungan. Sebelum gejala adiksi (ketergantungan) muncul, jika bergabung dengan komunitas, malah akan mengakibatkan kehancuran dalam hidupnya
Kaum lesbian di tanah air memang tak seberuntung kelompok sehati di sejumlah negara Asia Tenggara. Mereka lebih rentan menjadi korban kekerasan kebijakan negara, masyarakat, bahkan keluarganya sendiri. Meski sudah memiliki tempat bernaung, atau yang biasanya juga disebut dengan komunitas, umumnya komunitas lesbian terkesan sangat kaku karena biasanya masih memegang perbedaan peran antara lesbian butch dan lesbian femme. Sering yang mendominasi adalah nilai bahwa butch harus lebih aktif daripada femme. Kalau terjadi sebaliknya, maka butch tidak jarang akan mendapat ejekan. Komunitas lesbian yang ada bersifat tertutup karena dianggap terlalu mengeksklusifkan diri. Hal ini terjadi karena adanya konsep diri sosial yang juga memengaruhi interaksi sosial lesbian butch dengan komunitas lesbian secara umum. Lesbian butch yang memiliki konsep diri negatif dalam aspek sosial cenderung tidak aktif dalam komunitas lesbian atau memiliki pandangan yang negatif terhadap komunitas lesbian.
IV. 8. Ciri – ciri Lesbian
Pada umumnya, kaum homoseksual mempunyai sex role yang berubah-ubah. Karena itu, tampak pada lesbian, sifat gaya kelaki-lakiannya. Walaupun disembunyikan, akan tetap tampak karakter laki-lakinya. Itu hanya disebabkan lesbian cenderung lebih tertutup karena adanya tuntutan budaya yang mengarahkan pada tataran hidup normatif. Lesbian pun merupakan suatu kelainan, dalam berhubungan seksual pada perempuan lain pun, mereka tetap bisa orgasme. Biasanya menggunakan alat bantu seksual. Ada kemungkinan lesbian hanya ingin merasakan nikmatnya hubungan seksual, tapi takut mengalami kehamilan. Selain itu, lesbian rentan mengonsumsi narkoba hanya untuk berfantasi dan mencari sensasi. Itu dilakukan agar mengundang gairah bagi lesbian lain. Berbeda dari perempuan tomboi yang sekadar ingin tampil layaknya laki-laki. Lesbian pun bias disembuhkan asalkan ada kemauan kuat. Masa remaja menjadi titik rentan munculnya lesbianisme. Bila itu terjadi, harus segera berkonsultasi kepada psikolog. Namun, menjadi kesalahan fatal jika mengaktualisasikan diri pada komunitas lesbian. Dia tidak akan bisa sembuh, tapi malah terjerumus ke dalamnya.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
Adanya kaum lesbian di tengah – tengah masyarakat ternyata merupakan salah satu kenyataan yang terjadi di dalam kehidupan ini. Bahkan mereka pun ternyata benar – benar ada, hal itu diperkuat kembali oleh komunitas – komunitas yang tersebar di beberapa wilayah di Jakarta atau di kota – kota lain seperti Yogyakarta, Surabaya, Bogor, dan kota lainnya. Bahkan lesbian pun memiliki majalah sendiri yang membahas tentang kehidupan mereka. Bahkan ada juga lesbian yang tidak ingin masuk ke dalam komunitas lesbian. Hal ini disebabkan oleh adanya privasi tentang dirinya yang tidak ingin diketahui oleh orang lain.
Kehidupan dari para kaum lesbian pun ternyata sama seperti kehidupan percintaan antara kaum normal (pria dan wanita). Lesbian pun ada yang menjadi pria dan ada juga lesbian yang menjadi benar – benar wanita. Kehidupan mereka pun juga rentan akan kemasyarakatan, seperti misalnya saja dikucilkan dari masyarakat atau teman – teman mereka.
Pengasuhan dari orang tua, gaya hidup, dan balas dendam pun menjadi salah satu faktor penyebab mengapa orang itu menjadi lesbian. Untuk itu, kita harus siap dengan realita yang ada Namun demikian, para lesbian pun memiliki tingkah laku yang sama seperti orang – orang biasa. Mereka juga menjalani aktivitas sehari – harinya dengan biasa. Bahkan ada juga para lesbian yang ternyata sukses di bidang akademis maupun bisnis yang mereka tekuni. Mereka kebanyakan lebih menjaga sikap mereka dengan sebaik – baiknya.
2. Saran
Kami mengharapkan, dengan adanya penelitian kami, masyarakat menjadi lebih mengerti segala kehidupan yang tidak mungkin menjadi sangat mungkin. Seperti para lesbian ini yang ternyata ada di tengah – tengah masyarakat. Dan tentu saja kami juga mengharapkan apabila masyarakat itu menemukan pasangan lesbian, seharusnya mereka jangan terlalu dikucilkan, masyarakat justru harus mencari bagaimana solusi untuk para lesbian itu agar kelainan tersebut dapat disembuhkan.
Masyarakat harus menilai dari realita yang ada bahwa kehidupan lesbian pun jangan dijadikan sebagai suatu polemik yang benar – benar dahsyat, tetapi jadikan ini semua sebagai suatu kenyataan yang harus kita terima di kehidupan ini.
Lesbian juga manusia, memiliki perasaan yang sama dengan orang – orang normal lainnya. Untuk itu, kami berharap apabila masyarakat mengetahui komunitas dari lesbian tersebut, masyarakat tidak perlu khawatir dan tidak perlu mengucilkan mereka dari kemasyarakatan. Justru mereka harus diberikan dukungan untuk dapat kembali normal seperti layaknya pria dan wanita yang menjalin kehidupan cinta karena sebenarnya Tuhan menciptakan segala sesuatunya dengan berpasang – pasangan.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.google.com/

Tidak ada komentar: